Kontan Online

PHOTO STORY / MIGAS

Menjaga rantai distribusi gas subsidi

Selasa, 27 November 2018


Kobaran api menyala dari kompor yang menggunakan tabung-tabung gas berwarna hijau di dapur salah satu rumah makan di Palembang, Sumatera Selatan. Siang itu, aktivitas dapur itu harus terhenti dengan hadirnya tim inspeksi mendadak (sidak) penyalahgunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) ukuran 3 kg.

Tim dari PT Pertamina (persero) Marketing Operation Region (MOR) II Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palembang melakukan sidak untuk mencari rumah makan yang menyalahgunakan LPG.

Hasil sidak tersebut menemukan banyak pengusaha rumah makan yang masih menggunakan LPG dengan jenis yang tidak sesuai peruntukannya. Bahkan ditemukan ada salah satu pengusaha rumah makan menggunakan 8 tabung LPG 3kg dalam satu hari atau 240 tabung dalam satu bulan.

Perilaku itu menjadi salah satu penyebab LPG 3kg tersebut sering langka karena kuota yang telah ditetapkan Pertamina untuk rumah tangga miskin, usaha mikro dan nelayan kecil disalahgunakan oleh pengusaha rumah makan.

Padahal peggunaan gas LPG 3kg diatur Pasal 3 ayat (1) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2007 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) Tabung 3kg. Serta Pasal 20 ayat (2) Peraturan Menteri ESDM No. 26 Tahun 2009 yang jelas mengatur bahwa LPG bersubsidi 3 kg diperuntukkan hanya bagi rumah tangga miskin, usaha mikro, dan nelayan kecil.

Bahkan pada tabung-tabung baru tercetak seruan "hanya untuk masyarakat miskin" untuk menyindir warga mampu yang masih menggunakan gas tersebut.

Penerapan aturan penggunaan LPG 3kg atau yang lebih dikenal dengan gas melon tersebut membutuhkan komitmen bersama, yang didukung kesadaran bahwa LPG 3kg merupakan barang bersubsidi sehingga masyarakat yang mampu tidak perlu membeli dan sadar akan peruntukannya agar tidak membuat negara merugi akibat membengkaknya subsidi.

Data yang didapat dari PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) II Sumbagsel harga eceran tertinggi (HET) gas melon di kota Palembang Rp15.650 dan tingkat penyerapannya di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2018 tercatat sebesar 50,043 juta tabung (per Sept 2018).

Penggunaan gas melon oleh masyarakat Sumatera Selatan juga cenderung meningkat (year-on-year) sejak 2015. Pertamina menyebutkan bahwa realisasi pada 2015 adalah sebanyak 60.373 juta tabung, 2016 tercatat 63,008 juta tabung, sedangkan pada 2017 tercatat 65,202 juta tabung.

Foto dan Teks : Nova Wahyudi

PHOTO STORY LAINNYA