Dengan semangat membara mereka lantang menantang panasnya sengatan matahari demi mengais sejumput rupiah. Dengan kemampuan berbahasa asing yang lumayan satu per satu pelancong mereka hampiri. Mereka berharap sang pelancong mau membeli barang dagangan yang dijajakannya. Pernak-pernik aksesori penghias tubuh, minuman ringan, juga gorengan (tempe, tahu, pisang, dan sebagainya) mereka sodorkan. Tak tertarik. Mereka pun menawarkan jasa persewaan papan selancar, jasa pijat, jasa mengecat kuku, jasa kepang rambut, jasa melukis tato.
Sungguh, keberadaan penjaja asongan ini amat membantu para pelancong. Mereka tak harus jauh-jauh pergi ke studio tato, panti pijat, atau toko suvenir. Di sini, di Pantai Kuta, pengasong sudah menyediakannya. Namun, keberadaan pengasong acap dirasa mengganggu kenyamanan, mereka kerap memaksa supaya barang-barang yang mereka tawarkan bisa dibeli pengunjung.
Namun, Pantai Kuta tetaplah memikat. Pantai Kuta memiliki lanskap yang indah dan begitu menenteramkan. Tak heran pelancong domestik dan asing banyak yang berdatangan ke Bali. Mereka tersedot oleh magnet pesona pantai yang satu ini.
Sedotan pesona keindahan Bali kian kuat dari tahun ke tahun. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat, Jumlah wisatawan yang datang ke Bali pada Maret 2012 naik 11,09% ketimbang bulan yang sama pada tahun lalu dan naik 2,20% dibandingkan dengan bulan Februari 2012.
Ah, peluang bisnis pariwisata memang masih terbuka lebar. Tak hanya mereka yang bermodal miliaran rupiah yang bisa mereguk nikmat bisnis ini, pedagang-pedagang asongan bermodal minim pun masih kebagian rezeki. Di Pantai Kuta, mereka menanti rezeki.
PHOTO STORY / FIN
Bisnis Asongan di Kuta
Senin, 30 November -0001