PHOTO STORY / AGRIBISNIS

Simalakama petani garam

Senin, 07 Agustus 2017


Terik matahari siang itu dirasa bagi petani garam tradisional di Desa Santing, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu sebagai awal yang baik untuk memulai proses produksi garam. Sebelumnya, hampir setahun lebih lahan mereka terbengkalai.

Mereka sibuk mencangkul tanah untuk dibuat sebentuk petakan kotak persegi dengan ukuran rata-rata 5 x 5 meter, membuat saluran air dan ada pula yang memperbaiki kincir angin untuk memompa air ke areal lahan garam.

Sebelum dialiri air, petakan tanah yang akan digunakan sebagai lahan garam terlebih dahulu diratakan dengan alat penggiling dari semen dan bambu. Permukaan tanahnya harus rata dan halus, hal itu bertujuan untuk mempermudah proses pemanenan garam.

Usai dihaluskan petakan tanah tersebut diisi air yang dipompa menggunakan kincir angin buatan sendiri. Petani harus pandai-pandai menakar air ke dalam petakan lahan. Setelah itu air diuapkan di bawah terik matahari selama tujuh hari. Setelah air mengering dan berubah jadi kristal berwarna putih, barulah petani memanen garam untuk dijual.

Di tengah langkanya persediaan garam di pasaran, petani garam kini menikmati tingginya harga di pasaran. Kelangkaan ini disebabkan mundurnya musim olah garam, curah hujan yang masih tinggi di awal musim kemarau, serta gagal panen garam tahun lalu. Hal itu membuat produksi dan stok garam di gudang-gudang Desa Santing menipis, bahkan untuk kebutuhan pasar dalam kota saja tidak terpenuhi.

Di tingkat petani harga garam berada pada kisaran Rp 3000 per kilogram untuk kualitas standar, sementara untuk kualitas super Rp 4000 per kilogram. Harga yang fantastis untuk sekilogram garam, padahal di tahun sebelumnya hanya Rp 300 per kilogram.

Di sisi lain, petani garam was-was akan masuknya garam impor, yang dikhawatirkan akan menekan harga kembali rendah. Mereka berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tepat agar tidak terjadi kelangkaan garam di pasaran, namun juga melindungi petani yang menggantungkan hidupnya dari produksi garam.

Foto dan Teks: Dedhez Anggara

PHOTO STORY LAINNYA