Kontan Online

PHOTO STORY / MINERAL

Menerjang bahaya demi emas

Jumat, 04 Agustus 2017


Untuk menyambung hidup, para penambang emas tradisional yang ada di Desa Sukamenang, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan harus rela menembus lorong-lorong bawah tanah hingga puluhan meter untuk menjumput bijih-bijih emas di bebatuan bawah tanah.

Aktivitas penambang emas tradisional sangat berbahaya bagi para penambang karena hanya dibantu alat penerangan seadanya dan "blower" yang menyuplai oksigen tambahan saat berada di dalam lubang galian.

Kerap kali disaat menambang dan memasuki ratusan meter lorong tanah yang sudah dikeruk, bencana seperti tanah longsor terjadi. Hal itu yang sering ditakutkan para penambang emas tradisional.

Beberapa kali ada penambang yang tewas akibat tertimbun tanah longsor galian ataupun kehabisan oksigen saat berada di dalam lubang galian. Namun untuk memenuhi kebutuhan hidup, hal-hal yang membahayakan nyawa kerap tidak dihiraukan.

Untuk mendapatkan emas tersebut, bagi mereka sangatlah mudah ditemukan dalam batu-batuan yang terlihat dari ciri-ciri guratan batu (urat emas). Kemudian, setelah mendapatkan batu tersebut lalu dihancurkan dan diolah di tempat pengumpulan bijih emas dengan cara digiling menggunakan alat dan dicampur air raksa. Sehingga, dapat dibedakan antara batu, tanah dan bijih emas.

Emas hasil penambangan tradisional tersebut dijual ke pengepul dengan harga berkisar Rp 200.000 per gram. Pendapatan per hari sebagai pendulang emas memang tidak menentu. Rata-rata sehari dapat 20 gram emas yang dijual Rp 5 juta. Namun, ada kalanya seharian mencari tidak dapat emas.

Walaupun pekerjaan sebagai penambang emas tradisional cukup berbahaya, namun mereka terus melakukan karena penghasilan yang didapat cukup menjanjikan untuk menunjang kelangsungan hidupnya.

Foto dan Teks: Nova Wahyudi

PHOTO STORY LAINNYA