PHOTO STORY / REGIONAL

Festival Perang Air Selatpanjang

Rabu, 22 Februari 2017


Puluhan ribu orang pada peringatan Tahun Baru Imlek 2568/2017 berkumpul di sebuah kota kecil di pesisir Provinsi Riau, yang bernama Selatpanjang.

Mereka bersukacita menghadiri Festival Perang Air, sebuah permainan bocah Selatpanjang yang kini mendunia. Hanya ada satu aturan atraksi “perang air” yang sudah bertahan selama puluhan tahun: "Kalau Anda disiram, dilarang marah".

Perang air yang dalam bahasa Hokian disebut "Cian Cui", lebih seru ketimbang perang air "Songkran" di Thailand, karena berlangsung selama enam hari selama peringatan Tahun Baru Imlek. "Cian Cui" awalnya adalah cara anak-anak setempat untuk mengisi waktu selama perayaan Imlek dengan saling menyiram air.

Keriangan main air ini kemudian menjadi tradisi, dan sejak 2013 pemerintah daerah setempat mengemasnya menjadi sebuah festival. Warga dan wisatawan yang berkeliling di "medan perang" dengan mengendarai becak, harus siap menerima serangan yang datang dari pinggir jalan. Perang berlangsung selama dua jam pada pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.

Lokasinya ditentukan di lima jalan protokol, yakni Jalan Diponegoro, Kartini, Imam Bonjol, A. Yani dan Jalan Tebing Tinggi. Peserta tidak diperkenankan melemparkan air dengan kemasan plastik karena bisa melukai dan mengotori kota.

Data panitia perang air dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti menyatakan, ada sekitar 36.000 wisatawan yang ikut menghadiri Festival Perang Air pada tahun ini. Sekitar lima persennya adalah turis mancanegara. Jumlah wisatawan meningkat dibandingkan 2016, yang mencapai 16.000 orang.

Festival berakhir ketika perayaan Imlek keenam, yang diisi dengan pawai kebudayaan.
Rangkaian kegiatan itu kini menjadi sebuah wisata Imlek di Riau, yang menarik untuk disambangi setiap tahunnya.

Foto dan Teks: FB Anggoro

PHOTO STORY LAINNYA