Kontan Online

PHOTO STORY / PAR

Menjaga tradisi di kaki Gunung Lawu

Selasa, 23 Oktober 2018


Hijau dedaunan tanaman dengan embun yang sesekali menetes menghiasi tiap-tiap rumah penduduk Desa Ngelurah, Tawangmangu, menyambut matahari yang mulai menyingsing dinginnya pagi dari celah perbukitan.

Desa kecil yang di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah itu terletak diantara perbukitan kaki Gunung Lawu dan merupakan sentra penghasil tanaman hias yang telah tersohor dan telah dikenal banyak orang.

Pagi itu suasana tampak berbeda, umbul-umbul dipasang ditiap sudut kampung dan depan rumah warga, beberapa warga terlihat mengenakan pakaian beskap dan blangkon khas masyarakat Jawa bersiap menuju balai desa.

Hari itu tepat Selasa Kliwon (hari dalam sebutan Jawa) warga desa Ngelurah akan menyelenggarakan upacara tradisi bersih desa atau yang sering mereka sebut Dukutan.

Dukutan berasal dari kata Dukut, yang merupakan salah satu nama dari wuku (siklus penanggalan Jawa) yang berjumlah 28, Tradisi ini dilaksanakan setiap 6 lapan (1 lapan adalah 35 hari) atau setiap 7 bulan sekali dalam kalender Masehi.

Asap mengepul dari sebuah tungku yang dibawa pemuka adat kampung setempat, diikuti beberapa warga membawa sesaji yang berisi bahan jagung dan makanan dari hasil bumi.

Mereka menapaki satu per satu anak tangga menuju ke atas situs Candi Menggung yang dikeramatkan warga masyarakat setempat, mereka percaya 'pepunden' itu merupakan tempat bersemayam kyai dan nyai Menggung leluhur desa.

Pemuka adat dan sebagian warga selanjutnya memanjatkan doa di dalam punden, diiringi sayup-sayup angin dari celah dedaunan pohon besar di Situs Candi Menggung. Doa mereka panjatkan sebagai ungkapan terima kasih kepada leluhur dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan perlindungan yang diberikan kepada seluruh warga kampung Ngelurah.

Usai doa dipanjatkan terdengar suara bernada lantang memecah keheningan, suara itu berasal dari beberapa warga pembawa sesaji makanan yang berjalan mengelilingi Situs Candi Menggung, sembari melemparkan sesaji makanan yang mereka bawa pada warga yang telah memadati Situs Candi Menggung.

Suasana berubah riuh saat itu. Warga mulai saling lempar makanan dari jagung dan hasil bumi. Aksi saling lemper itu mereka debut "Perang Dukutan".

Selanjutnya pemuka adat dan pembawa sesaji mulai beranjak dari situs untuk menuju perkampungan untuk melanjutkan "Perang Dukutan" dengan mengarak sesaji makanan tersebut keliling kampung untuk dilemparkan ke setiap rumah penduduk.

Banyak warga yang sengaja menunggu di depan rumah untuk mendapat lemparan dari sesaji makanan tersebut berharap mendapat berkah. Masyarakat setempat percaya dengan melemparkan sesaji makanan sebagai bagian dari bersih desa dan mereka percaya akan diberikan perlindungan dan terhindar dari marabahaya.

Tradisi bersih desa Dukutan itu menjadi sebuah bentuk penghormatan pada leluhur dengan menjaga budaya tradisi yang telah diwariskan kepada mereka.

Foto dan Teks : Mohammad Ayudha

PHOTO STORY LAINNYA