Kontan Online

PHOTO STORY / REGIONAL

Sigale Gale, Sang Penghibur

Senin, 29 Januari 2018


Sejumlah wisatawan menari membentuk lingkaran. Diiringi musik Sordan dan Gondang Sabangunan, mereka menari Tortor di depan sebuah boneka kayu menyerupai bentuk manusia yang disebut Sigale Gale.

Pertunjukan Sigale Gale telah mengakar ratusan tahun di Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba, Sumatra Utara. Kisahnya diambil dari cerita turun-temurun dan dipercaya oleh masyarakat Batak setempat.

Dikisahkan pada dahulu kala Raja Rahat memiliki putra tunggal bernama Manggale. Sayangnya, sang putra kesayangan gugur di medan perang dan jasadnya tidak ditemukan.

Kesedihan karena kehilangan sang putra membuat Raja Rahat sakit. Dan guna membahagiakan kembali rajanya, para tetua di kerajaan tersebut membuat sebuah patung yang mirip dengan Manggale. Agar patung tersebut 'hidup', para tetua itu memanggil roh Manggale yang membuat patung bisa bergerak.

Berkat patung tersebut, Raja Rahat pulih dari sakitnya. Sejak saat itu, masyarakat Batak menyebut patung tersebut sebagai Sigale Gale, yang diambil dari nama Manggale.

Pertunjukan Sigale Gale kini tentu tidak menggunakan roh seperti di masa dahulu kala. Boneka Sigale Gale digerakkan oleh pawang menggunakan sistem penggerak mekanis, seperti di bagian kedua tangan dan kepala sehingga boneka bisa menari di atas kotak kayu yang menyerupai peti jenazah.

Benang merah Sigale Gale dulu dan kini tetap sama, yakni: sang penghibur. Jika dahulu Sigale Gale dipentaskan untuk menghilangkan rasa duka atas kematian anggota keluarga. Kini Sigale Gale berubah menjadi penghibur wisatawan yang mengunjungi Pulau Samosir dan Danau Toba. Seperti yang dipentaskan di Desa Wisata Tomok, yang berdekatan dengan Situs Megalitikum makam batu para Raja Sidabutar.

Foto dan Teks: Andika Wahyu

PHOTO STORY LAINNYA