PHOTO STORY / MANUFAKTUR

Bertahan di tengah gempuran zaman

Benang untuk pembuatan tenun
Pekerja memeriksa benang untuk pembuatan tenun di Pabrik Tekstil Perintis, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Foto pengurus pertama koperasi
Sekretaris Koperasi Perintis Igede Wirata (72), memegang foto Moch Musa salah satu pengurus Koperasi Perintis pertama di depan Tugu Koperasi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Produksi tenun
Pekerja menyelesaikan pembuatan tenun di Pabrik Tekstil Perintis.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Produksi tenun
Pekerja menyelesaikan pembuatan tenun di Pabrik Tekstil Perintis.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Perbaikan mesin tenun
Seorang mekanik memperbaiki mesin tenun yang rusak di Pabrik Tekstil Perintis.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Bekas tangan pekerja
Bekas jari tangan pekerja mekanik yang terkena oli di tembok Pabrik Tekstil Perintis, Kota Tasikmalaya.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Produksi tenun
Pekerja menyelesaikan pembuatan tenun di Pabrik Tekstil Perintis.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Memasukkan benang
Pekerja memasukkan benang ke dalam jarum mesin secara manual di Pabrik Tekstil Perintis.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Produksi tenun
Pekerja menyelesaikan pembuatan tenun di Pabrik Tekstil Perintis.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Pekerja pertama hingga kini
Iyah Wakiah (tengah), Iyuh Rosiah (kanan) dan Ineng. Mereka bekerja sejak berdirinya Pabrik Tekstil Perintis di Kota Tasikmalaya.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)

Warga Tasikmalaya, Jawa Barat berangkali banyak yang tidak mengetahui ada sebuah pabrik tenun bersejarah yang masih berdiri kokoh sejak 1952. Pabrik tenun ini kini masih bertahan di tengah gempuran perkembangan teknologi pabrik yang kian maju, sementara beberapa pabrik kuno serupa sudah banyak yang gulung tikar.

Dulunya pabrik Tekstil Perintis yang berada tepat disamping Monumen Nasional Tugu Koperasi Kota Tasikmalaya itu merupakan pabrik tekstil paling besar dengan mesin berteknologi Jepang. Pabrik sempat mengalami masa kejayaan pada tahun 1968 hingga tahun 70-an dikenal sebagai penghasil kain tenun dengan kualitas sangat baik.

Namun kini, menurut Kepala Pabrik Tekstil Perintis Sahidin, pabrik ini hanya bisa bertahan dengan produksi kain setengah jadi 200 kodi saja setiap minggunya. Kebanyakan produksinya berdasarkan pesanan yang rutin dikirim ke NTB dan Bali, dimana kebanyakan tenunan berupa kain sarung dan harus dilakukan pengolahan lanjutan.

Dengan menggunakan 46 mesin teknologi tahun dan hanya didukung 44 orang pekerja, pabrik tenun perintis ini memang berat untuk bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya. Belum lagi harus bersaing dengan pabrik tenun yang menggunakan mesin yang lebih modern yang menghasilkan produk yang lebih bersaing.

Sahidin berharap pabriknya masih akan terus bertahan dan tetap berproduksi, karena bagi sebagian pekerja sudah turun temurun dan tinggalnya di sekitar pabrik ini.

Selain itu pabrik ini mempunyai sejarah tersendiri, karena pabrik ini merupakan pabrik perintis milik Pusat koperasi Kota Tasikmalaya. Bahkan Kongres Koperasi Indonesia pertama kalinya dilangsungkan di tempat ini.

Foto dan Teks: Adeng Bustomi

PHOTO STORY LAINNYA